Firdaus kini hanya tinggal nyawa-nyawa ikan. Nafasnya yang bergelora tadi mula perlahan, semakin perlahan, seakan terputus di dunia nyata. Wajahnya pucat, bibirnya kebiruan, manakala urat di lehernya menegang dalam sisa perjuangan untuk terus bernafas. Di ruang tamu Istana Jati, suasana tampak berbeza daripada ketenangan yang sepatunya menghuni malam itu. Ruangan luas itu masih bercahaya terang, disimbahi limpahan cahaya daripada lampu kristal gergasi yang tergantung megah di tengah siling. Cahaya itu berkilau lembut pada dinding dan lantai kayu jati yang berkilat, namun malam itu, sinarnya terasa dingin seperti ada sesuatu yang bersembunyi di sebalik keindahan itu. Di sebuah dinding gergasi yang menjadi kebanggaan Istana Jati, tergantung sebuah ukiran lukisan lama, hasil seni ukiran halus menggambarkan hutan belantara yang penuh misteri. Malam itu ukiran itu tampak hidup. Pohon-pohon dalam lukisan seolah berdesir, bayangan daun bergetar lembut dan di celahnya cahaya ...